Siapkan Pemimpin Masa Depan, Golkar Lakukan Perkaderan Generasi Milenial
Politik

Siapkan Pemimpin Masa Depan, Golkar Lakukan Perkaderan Generasi Milenial

Imogiri,(bantul.sorot.co)--Sekitar 550 orang pemuda mengikuti kegiatan seminar Perkaderan Pemuda Golkar di Graha Gandung Pardiman Center (GPC), Karangtengah, Kecamatan Imogiri, Minggu (12/01). Generasi milenial di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini digembleng untuk ilmu politik sehingga ke depan diharapkan dapat menjadi kader fungsional di Partai Golkar.

Antusias peserta mengikuti seminar ini cukup tinggi karena dari target peserta hanya 200 orang, namun dalam pelaksanaannya peserta membengkak menjadi sekitar 550 orang. Kegiatan menghadirkan beberapa narasumber antara lain Dosen Sosiologi UGM, Arie Sujito, Pimpinan Redaksi Kedaulatan Rakyat, Okto Lampito dan pembicara utama Anggota DPR RI Komisi VII, Gandung Pardiman.

Dalam paparannya, Gandung Pardiman menyampaikan, masa depan banga Indonesia berada di tangan para generasi milenial. Sehingga sebagai partai yang sangat peduli dengan nasib bangsa ke depan, Golkar berkomitmen untuk terus memberikan pendidikan di beberapa bidang demi menyiapkan generasi milenial sehingga mampu memimpin bangsa ini.

Mau tidak mau, siap tidak siap, saudara-saudara nanti pada saatnya atau lima tahun lagi, sepuluh tahun, lima belas tahun, akan menjadi pemimpin bangsa ini. Baik itu pemimpin di organisasi, pemimpin partai politik, pemimpin usaha, pemimpin semua hal yang ada di bangsa ini. Untuk itu kami terpanggil untuk menyiapkan generasi milenial ini,” paparnya.


Gandung menambahkan, dengan tingginya antusiasme peserta dalam kegiatan Perkaderan Pemuda Golkar ini juga menunjukkan bahwa Partai Golkar masih dicintai oleh generasi muda. Kondisi itu membuat ia yakin Partai Golkar akan kembali meraih kejayaan di pemilu-pemilu yang akan datang. Dari kegiatan ini, Partai Golkar akan menindaklanjuti dengan akademi di bidang ekonomi dan politik dengan pesera para generasi milenial. 

Ini nanti akan kita tindak lanjuti dengan outbond untuk interaksi antar sesama generasi milenial. Dan akan kita saring 80 orang untuk kita didik tingkat lanjut dan menjadi pemimpin di masa depan. Selain di duni apolitik, mereka juga akan kita didik di bidang ekonomi, sehingga akademi yang akan kita bentuk yakni akademi ekonomi dan politik milenial,” terang Gandung.

Sementara itu, Dosen Sosiologi UGM, Arie Sujito menyampaikan, perjalanan demokratisasi Indonesia begitu dinamis, membutuhkan pengetahuan, strategi dan cara berpolitik baru sesuai perkembangan yang ada. Suasana dan tantangan baru itu hendaknya dipahami dan diolah bagi politisi, ataukah siapapun yang bekerja dalam membangun demokrasi Indonesia ke depan.

Begitu pula kecenderungan munculnya fenomena kaum muda beridentitas milenial, merupakan tantangan menarik,” ujarnya.

Menurutnya, secara prosedural demokrasi di Indonesia telah berjalan dengan damai khususnya dalam dua dekade terakhir. Namun secara substansi demokrasi di Indonesia masih jauh dari harapan dengan ditandai isu-isu yng keras, konflik, korupsi dan juga ketegangan. Kondisi itu menyebabkan daya tarik politik di kalangan muda menjadi sangat minim. Di sisi lain, masa depan politik dan demokrasi di Indonesia 10 tahun yang akan datang akan ditentukan kualitas para generasi milenial.

Oleh karena itu kemampuan politik untuk memiliki model pendekatan ke generasi milenial itu sangat diperlukan. Jadi kecerdasan anak muda ini harus dipahami oleh para politisi, caranya bagaimana? Angkat isu-isu politik itu dengan pesan moral dan lebih humanis, tentu tidak hanya normatif tetapi harus ditunjukkan dengan kerja-kerja kongkret kepada masyarakat,” katanya.

Ari juga berpesan kepada partai politik untuk tidak mendekati anak muda hanya pada saat menjelang pemilu supaya anak muda tidak curiga. Partai politik harus jauh-jauh hari sebelum pesta demokrasi untuk mendekati anak muda melalui berbagai kegiatan. Antara lain di bidang ekonomi, pertanian, kebudayaan dan olahraga yang digandrungi oleh kalangan milenial.