Aksi Terorisme Muncul Karena Pemahaman Agama yang Salah
Hukum & Kriminal

Aksi Terorisme Muncul Karena Pemahaman Agama yang Salah

Sewon,(bantul.sorot.co)--Wakil Bupati H Abdul Halim Muslih menyatakan, aksi terorisme yang terjadi di tanah air hampir selalu diawali dari pemahaman keagamaan (Islam) pelaku terorisme yang salah dan kurang mendalam. Dalam pembelajaran agama, pelaku terorisme selalu ditanamkan atau didoktrin secara perlahan-lahan tentang paham radikal.

Doktrin itu dilakukan secara terus menerus sampai tertanam pemikiran bahwa orang yang berbeda agama adalah orang yang layak dimusnahkan. Dan dalam setiap aksi terorisme itu, pelaku juga memiliki pemahaman tindakan aksi yang dilakukan adalah perbuatan amar ma’ruf nahi munkar dan bakal masuk syurga. Jika pemahaman agama seorang pelaku aksi terorisme tidak tanggung-tanggung, tentu tidak ada yang menyalahgunaan Al quran dan Hadist Nabi untuk perbuatan yang menyimpang.

Ada banyak ayat yang mengatakan, jika Allah itu berkehendak maka manusia itu dibuat sama, Islam semua, atau Katolik semua atai Hindu semua. Tetapi faktanya tidak. Artinya kebhinekaan itu memang sudah sunnatullah atau kodrat dan takdir yang diciptakan oleh Allah. Jadi, sesungguhnya kita yang berbeda-beda keyakinan tidak perlu sewot manakala umat manusia yang lain berbeda agama dan keyakinan dengan kita,” ungkap Halim, saat membuka workshop video pendek dan diskusi film yang digelar BNPT dan FKPT DIY di Ros In Hotel Sewon, Kamis (21/3).

Halim menambahkan, Nabi bersabda, barang siapa yang membunuh non muslim dalam keadaan damai seperti di Negara Indonesia, maka dia tidak akan mencium baunya syurga. Allah juga menakdirkan manusia itu berbeda-beda keyakinan untuk saling menghormati. Wabup berpesan agar generasi muda dan umat Islam agar jangan pernah mempelajari agama secara tanggung-tanggung, sehingga rentan untuk dibelokkan dan disalahgunakan. 

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merilis usia 17 hingga 27 tahun rentan dimasuki paham radikalisme karena jiwanya yang tergolong masih labil. Paham radikalisme dianggap sangat mengkhawatirkan lantaran paham radikal yang mengarah ke radikalisme diinjeksikan melalui berbagai media. Sehingag dibutuhkan sinergitas bersama dalam membasmi paham radikalisme.

Sosialisasi bahaya teroris sangat penting dilakukan mengingat dalam kaitannya dengan mencegah maraknya paham radikalisme. Agama dijadikan kambing hitam. Ada ajaran ajaran kontroversial dalam aspek keagamaan. Saya prihatin karena banyak pelaku terorisme menyasar kalangan pemuda usia 20 tahun. Bahkan yang paling diwaspadai adalah bagaimana menangkal paham ini yang disebarluaskan melalui media sosial,” ujar Kepala Seksi Pengawasan Barang BNPT, Faizal Yan Aulia.

Dengan lomba video pendek dan diskusi film ini, BNPT berharap dapat menangkal radikalisme dan terorisme dengan cara yang tidak biasa, kekinian disesuaikan dengan perkembangan jaman. Dipilihnya video pendek sebagai media penanggulangan terorisme di kalangan pelajar karena saat ini memasuki era digital. Selama ini banyak video beredar berisi propaganda paham-paham tertentu khususnya lewat medsos. Maraknya informasi dekskruptif juga membuat paham radikalisme melebar. Paham ini dapat dibentuk dengan pola masyarakat yang cenderung serba instant dan pragmatis.