Diduga Ada Kongkalikong, Peserta Gagal Seleksi Pamong Kalurahan Srimartani Mengadu ke Dewan
Pemerintahan

Diduga Ada Kongkalikong, Peserta Gagal Seleksi Pamong Kalurahan Srimartani Mengadu ke Dewan

Bantul, (bantul.sorot.co)--Sejumlah peserta seleksi Pamong Kalurahan Srimartani, Kapanewon Piyungan didampingi oleh Gerakan Masyarakat Peduli Srimartani baru-baru ini mendatangi Kantor DPRD Bantul.

Kedatangan mereka mengadukan adanya dugaan kecurangan dalam seleksi pamong kalurahan untuk jabatan Ulu-Ulu di kalurahan setempat. Mereka menuding peserta yang lolos seleksi dicurigai main mata dengan panitia seleksi.

Juru Bicara Gerakan Masyarakat Peduli Srimartani, Samsu Hadi kepada sorot.co mengatakan setidaknya ada 5 poin dugaan kecurangan dalam pelaksanaan seleksi Ulu Ulu yang digelar pada Kamis (8/10).

Pertama, pelaksanaan seleksi tidak dilengkapi dengan adanya tata tertib (tatib) penyelenggaraan seleksi. Kedua, durasi waktu pelaksanaan ujian dinilai tidak proporsional.

Pasalnya dari 110 soal meliputi pilihan ganda dan uraian, hanya diberi waktu 45 menit. Dan yang paling mengejutkan, dari sebanyak 16 orang peserta yang mengikuti seleksi, diketahui seorang peserta mampu menyelesaikan soal dalam tempo 30 menit.

"Yang rangking 1 itu (lolos seleksi-red), dia bisa menyelesaikan soal dengan cepat 30 menit, disaat peserta lainnya kekurangan waktu," ujarnya, Rabu (20/10/2021).

Selanjutnya ketiga peserta yang dinyatakan lolos seleksi itu merupakan kerabat terdekat dari salah seorang panitia seleksi. 

Terlebih, pihaknya mendapat laporan bila kerabatnya diduga membantu mengumpulkan KTP warga sebagai sebagai persyaratan dukungan mengikuti seleksi Ulu Ulu. Hal ini terang menimbulkan tanda tanya dari para peserta dan masyarakat lantaran hal tersebut memperkuat dugaan adanya kongkalikong antara bersangkutan dengan kerabat dekatnya yang diketahui menduduki posisi strategis di kepanitiaan.

Kelima, pihak ke-3 yang merupakan Tim Penguji dari Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta, justru membeberkan ke para peserta bahwa dalam pembuatan materi ujian ini pihaknya mendapat titipan soal dari pihak Kalurahan Srimartani.

"Itu disampaikan ke dihadapan para peserta ujian, dan tidak semua pansel mengetahui jika ada soal dari kalurahan. Hal itu menimbulkan banyak kecurigaan tentang siapa yang membuat soal, independensi dan pontensi soal diperjualbelikan," tandasnya.

Dalam pertemuan dengan Komisi A DPRD Bantul, pihaknya yang ditemui langsung oleh Ketua Komisi, Muhammad Agus Salim, meminta supaya Komisi A turun tangan menyelesaikan adanya dugaan kecurangan tersebut. Pihak dewan, sebut Samsu, pun berjanji akan menindaklanjuti aduan ini dengan memanggil pihak pihak yang bertanggung jawab.

Salah seorang peserta yang gagal lolos seleksi, Awarudin merasakan adanya banyak kejanggalan dalam pelaksanaan seleksi tersebut. Oleh karenanya demi menjaga integritas dan transparansi dalam proses pelaksanaan ini, pihaknya bersama Gerakan Masyarakat Peduli Srimartani serta peserta lain mengadukan persoalan ini ke DPRD.

"Harapannya ketika kami mengajukan aspirasi ini kejanggalan bisa segera terungkap. Dan dewan sudah berjanji menindaklanjuti audensi. Kita diminta melengkapi berkas berkas bukti-bukti," ujarnya.