Era Sekarang, Banyak Penulis Puisi Hanya Browsing Internet
Budaya

Era Sekarang, Banyak Penulis Puisi Hanya Browsing Internet

Bantul, (bantul.sorot.co)--Sastra Bulan Purnama (SBP) menggelar acara bedah buku karya Dedet Setiadi berjudul Apokalipsa Kata di Tembi Rumah Budaya Timbulharjo, Kapanewon Sewon pada Minggu (17/10/2021).

Acara ini sekaligus menandai satu dekade SBP sejak didirikan sebagai forum silaturahmi penyair lintas generasi dan lintas daerah.

"Kegiatan diskusi ini diharapkan menambah wawasan tentang dunia penyair atau pun menulis puisi dari seorang maestro Dedet Setiadi," ujar Panitia Acara, Umi Kulsum.

Sementara itu kepada wartawan, Dedet menyampaikan bahwa dalam buku itu terdapat sebanyak 99 puisi yang ia tulis sejak 2013. Pria asal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini menyebut bahwa karyanya itu menceritakan banyak hal, yang kebanyakan dialami oleh setiap manusia seperti persoalan maut atau kematian, kesedihan, dan cinta 

"Buku yang saya tulis ini menceritakan banyak hal atau kompleks. Tema umum yang dialami setiap manusia semacam persoalan maut, kelahiran, kesedihan, cinta, kematian dan lainnya,” kata Dedet kepada awak media.

"Membuat puisi itu dalam pemilihan kata atau diksi bukanlah menggunakan kalimat yang lazim. Namun dikotori emosi dan perasaan kita saat menggambarkan atau melihat sesuatu. Namun tidak kemudian menggunakan kata-kata yang sulit dipahami juga. Dan saat puisinya jadi, orang yang membaca tidak paham apa pesan yang hendak disampaikan,” tandasnya.

Menulis puisi itu harus dengan rasa. Dalam artian penulis bisa datang langsung merasakan sehingga bisa merasakan suasana yang dibangun dalam tulisan. Namun seiring era digitalisasi, penyair masa kini banyak yang kemudian mengubah pola dengan cukup browsing lewat internet untuk referensi. Kemudian diolah dengan pintar-pintarnya membuat kata atau kalimat saat menulis.

Kalau saya termasuk generasi tua, yang menulis harus datang ke lokasi. Karena di sana kita bisa menghadirkan suasana langsung yang kita tuangkan dalam tulisan,” katanya.