Tangkap Penjual Bakmi Jawa, Densus 88 Amankan Sejumlah Rekening Bank
Peristiwa

Tangkap Penjual Bakmi Jawa, Densus 88 Amankan Sejumlah Rekening Bank

Pandak, (bantul.sorot.co)--Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri menangkap seorang berinisial DS warga Dusun Jomboran, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Minggu (4/4/2021) pagi di wilayah Desa Jejeran, Kecamatan Pleret.

Lelaki 38 tahun yang berprofesi sebagai penjual bakmi Jawa itu diduga terlibat jaringan teroris.

Dukuh Jomboran, Juli Riyadi membenarkan bahwa warganya tersebut diamankan oleh Densus 88. Namun demikian ia mengaku tidak mengetahui persis lokasi dan pukul berapa yang bersangkutan dibawa oleh Densus 88.

Juli memperoleh kabar jika DS diamankan oleh Densus 88 sekitar pukul 10.00 WIB saat DS sedang sarapan pagi bersama sang istri di salah satu warung makan di wilayah Desa Jejeran, Kecamatan Pleret.

"Kalau penangkapannya tidak tahu persisnya karena ditangkapnya bukan diwilayah saya. Tapi memang benar dia diamankan (Densus 88). Diamankan saat sedang jajan di warung di wilayah Jejeran, Pleret," ujar Juli dihubungi sorot.co, Minggu malam.

Juli mengaku mengetahui hal itu usai sejumlah anggota polisi yang mengaku dari Polda DIY mendatangi rumahnya, mengajak menyaksikan proses penggeledahan di rumah DS. Sejumlah barang dibawa oleh Densus 88 yakni beberapa buku rekening bank, kartu ATM, sejumlah kuitansi, Laptop, CD, Flashdisk dan sejumlah buku bacaan. 

"Saya lihat tadi juga diamankan busur dan sebuah pisau belati," tandasnya.

Juli mengaku syok dan tidak menyangka, DS yang merupakan warga asli Jomboran diduga terlibat dalam jaringan teroris. Dia yang saban hari membuka lapak Bakmi Jawa di Jalan Parangtritis dikenal sangat baik di mata masyarakat setempat.

Masyarakat sama sekali tidak menaruh kecurigaan sedikitpun terhadap pria yang memiliki dua orang anak itu. Namun demikian, setahun belakangan ini Juli merasa ada keganjilan sebab kondisi kesehatan DS kurang baik. Secara fisik, ia tampak tak ada persoalan dengan kesehatannya namun setiap kali berkomunikasi secara langsung dengan orang lain, penerimaannya sangat lambat.

"Saya syok kaget terkejut dan tidak hanya saya semua warga pun sama.

Karena dalam keseharian (DS) di rumah dalam bermasyarakat bagus, kemasyarakatannya bagus. Dalam satu tahun ini beliau mengalami gangguan kesehatan jadi terindikasi seperti terkejut. Gangguan kesehatan tanya fisik bagus, diajak komunikasi lambat,” kata Juli.