Curhat Mahasiswa di Tengah Pandemi Berkepanjangan dan Tantangan Belajar Daring
Pendidikan

Curhat Mahasiswa di Tengah Pandemi Berkepanjangan dan Tantangan Belajar Daring

Kasihan, (bantul.sorot.co)--Pandemi covid-19 berdampak pada setiap sendi kehidupan masyarakat. Tak hanya kesehatan, sektor pendidikan pun mendapat imbas dari pandemi yang sudah merebak sejak setahun terakhir ini.

Kabupaten Bantul sendiri dikenal sebagai salah satu rumah mahasiswa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Banyak perantau yang datang untuk mengambil studi di berbagai kampus di sana. Namun, perkuliahan yang biasanya dilakukan secara tatap muka, sekarang menggunakan berbagai aplikasi jejaring sosial.

Hal ini ternyata membuat kesulitan dalam pengaplikasiannya. Seperti yang dirasakan oleh Elok Husna, mahasiswi sebuah kampus swasta di Dusun Sonosewu, Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan.

Mahasiswi semester 8 asal Kabupaten Kebumen, Jawa tengah ini mengatakan dengan kuliah daring ia merasa tidak mendapatkan materi kuliah dengan optimal, kepahaman atas mata kuliah yang diberikan dosen pun dalam pengajarannya tidak senyaman ketika tatap muka langsung.

Selain itu, Elok yang merupakan mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini tidak mendapatkan pengalaman mengajar siswa SD ketika ia mengukuti program Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) di sebuah Sekolah Dasar di Kasihan.

Ya kita PPL di sekolah, tapi siswanya tidak ada. Gimana mau dapat pengalaman?” keluh Elok, Rabu (17/02/2021).

Selain itu, dalam perkuliahan daring Elok mengaku menjadi lebih boros dalam penggunaan paket data. Meskipun ada program banguan paket data belajar untuk kebutuhan perkuliahan daring dari pemerintah, ia mengaku belum pernah mendapatkannya sama sekali. 

Sudah daftar sejak pertama, tapi belum pernah dapat sampai sekarang. Teman-teman lain juga banyak yang senasib,” imbuh Elok.

Terpisah, Syahrul seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi juga mengeluhkan hal yang sama. Terlebih selama kuliah online ini ia tidak pernah merasa menggunakan fasilitas kampus namun tetap harus membayar segala fasilitasnya seperti uang gedung, biaya WiFi kampus, dan lainnya. Hal tersebut dianggapnya tidak adil karena ia tidak mendapat manfaat dari biaya yang dikeluarkan seama setahun terakhir.

Memang ada pengurangan biaya semester, tapi juga tidak seberapa,” pungkas Syahrul. (Naufal)