Mengenal Situs Mangir dan Ceritanya
Wisata

Mengenal Situs Mangir dan Ceritanya

Pajangan, (bantul.sorot.co)--Padukuhan Mangir Tengah dikenal sebagai perkampungan tua di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan. Mangir merupakan tempat cagar budaya menarik meskipun kurang dikenal luas oleh masyarakat.

Bakri, Juru kunci situs Mangir mengatakan, jauh sebelum berdirinya Mataram Islam, Mangir merupakan tanah perdikan yang bebas dari upeti atau pajak. Pardikan Mangir sendiri dipimpin oleh Ki Ageng Mangir dan anak turunnya. Selama ratusan tahun wilayah ini dipimpin oleh Ki Ageng Mangir I hingga Ki Ageng Mangir IV, yaitu Wanabaya III.

Pada situs tersebut, terdapat sebuah pohon randu alas besar yang dipagari tembok putih. Di bawah pohon tersebut terapat sebuah batu hitam berbentuk persegi panjang yang kira-kira besarnya 1x1 meter yang terlindungi kotak kaca. Bakri mengatakan, batu tersebut konon merupakan singgahsana Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Selain watu gilang, dalam kompleks situs tersebut terdapat sebuah langgar kecil berdinding anyaman bambu yang usianya lebih dari 2 abad. Bakri mengaku, langgar tersebut bentuk aslinya masih terjaga sampai sekarang. Bahkan dinding bambu dan tiang penyangganya belum pernah diganti sejak ratusan tahun lalu.

Menurut penuturan Bakri, wilayah Mangir merupakan peradaban yang maju kala itu. Masyarakatnya hidup berdampingan dengan rukun dan terkenal sebagai penghasil gula kelapa.

Sampai suatu ketika, Ki Ageng Mangir yang pada saat itu melakukan sembah sungkem kepada Panembahan Senopati atas permintaan istrinya yakni Gusti Pembayun. Namun, Panembahan Senopati tidak menerima sungkem Ki Ageng Mangir yang merupakan menantunya dan justru membenturkan kepala Ki Ageng Mangir ke sisi Watu Gilang. Diketahui akibat benturan yang terjadi, Ki Ageng Mangir tewas seketika.

Ya memang begitu cerita turun-temunrunnya,” ujar Bakri, Minggu (14/2/2021).

Bakri menambahkan, situs tersebut masih digunakan sebagai tempat berziarah orang-orang yang menyukai dunia spiritual. Selain itu kelestarian dari situs tersebut juga dijaga oleh warga sekitar, dan tiap bulan tertentu diadakan upacara jamasan pada watu gilang san disambung dengan acara merti desa. 

Pria yang mewarisi pekerjaan sebagai juru kunci dari Kakek dan Ayahnya ini berharap situs tersebut bisa terus dijaga oleh generasi muda, dan bisa terus lestari sebagai tempat bersejarah. (Naufal)