Praktek Jual Beli dengan Koin Dirham dan Dinar, Tiga Pasar Muamalah Ditutup
Peristiwa

Praktek Jual Beli dengan Koin Dirham dan Dinar, Tiga Pasar Muamalah Ditutup

Bantul,(bantul.sorot.co)--Pemerintah Kabupaten Bantul menutup sebanyak tiga Pasar Muamalah di Kabupaten Bantul yang diduga merupakan jaringan Pasar Muamalah di Kabupaten Depok, Jawa Barat yang didirikan oleh Zaim Saidi.

Ketiga pasar muamalah di Bumi Projotamansari itu diketahui melakukan transaksi pembayaran dengan menggunakan mata uang asing berupa koin dirham dan dinar.

Kepala Dinas Perdagangan Bantul, Sukrisna Dwi Susanta mengatakan bahwa di wilayah ini terdapat tiga pasar muamalah yang ditengarai melakukan praktek jual beli sama persis dengan pasar muamalah yang berada di Depok, Jawa Barat.

Ketiga pasar muamalah itu berlokasi di Jalan Parangtritis KM 3, Dusun Saman, Desa Bangunharjo, Kecamatan Sewon; Jalan Dokter Wahidin Sudirohusodo Dusun Pepe, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, dan di Kecamatan Sedayu, tepatnya di depan Stasiun Rewulu.

Sukrisna menerangkan, sebelum menjadi pasar muamalah ketiga pasar itu merupakan pasar dadakan atau istilah bekennya pasar sunmor. Namun setelah berjalan beberapa bulan, pasar kaget itu berubah nama menjadi pasar muamalah, usai salah seorang pedagang bernama Kusnaini yang merupakan salah seorang pedagang di Dusun Saman, Bangunharjo Sewon mengenal sang pencetus Pasar Muamalah, Zaim Saidi.

Berjalannya waktu, Kusnaini, yang juga sebagai Koordinator Pasar Muamalah di Kabupaten Bantul itu kemudian memiliki anggota pedagang pasar muamalah di Dusun Saman, Desa Bangunharjo, Sewon sekitar sebanyak 40 orang.

Dalam perkembangannya para pedagang yang 75 % menjajakan makanan ringan itu baru kemudian mendirikan pasar muamalah baru yakni di Dusun Pepe, Desa Trirenggo dan Sedayu.

"Yang di Jalan Parangtritis itu memang jaringan dari sana (Depok, Jawa Barat). Dia sebagai koordinator di Bantul. Yang di Sedayu masih kecil tidak sampai 10 pedagang, yang paling besar di jalan Parangtritis ini. Yang di Bantul baru sekitar 10 pedagang," ujarnya, Jumat (05/02/2021). Menanggapi hal itu, Sukrisna bersama dengan instansi terkait telah bergerak cepat melakukan penutupan. Bahkan sebelum terjadi kehebohan itu pihaknya telah melakukan pemantauan langsung ke para pedagang.

Dia menyampaikan hasil pemantauan para pedagang sejatinya mereka masih menggunakan uang rupiah, namun demikian para komunitas pedagang itu juga menyediakan transaksi dengan menggunakan koin dirham dan dinar. Dengan mempertimbangkan berbagai hal, ketiga pasar itu untuk sementara waktu dilarang beroperasi. Pasalnya mengingat ketentuan bahwa transaksi sah jual beli di tanah air dengan menggunakan mata uang rupiah. 

"Sebelum ada penangkapan (di Depok Jawa barat) Selasa lalu, Bu Isnaini (Kusnaini-red) sudah kita berikan arahan. Kalau melakukan transaksi dengan menggunakan mata uang asing itu salah, karena di undang-undang kita sudah bunyi Undang-Undang No. 7 tahun 2011, bahwasanya transaksi di Indonesia itu menggunakan mata uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah. Kita tidak hidup di luar negeri, tidak hidup di Arab, di Turki, di Emirat Arab kita hidup di Indonesia dan Indonesia telah menetapkan mata uang rupiah itu sebagai mata uang pembayaran yang sah," tandasnya.