Ngaku Berpangkat Jenderal, Polisi Gadungan Ditangkap Punya Senjata Api
Hukum & Kriminal

Ngaku Berpangkat Jenderal, Polisi Gadungan Ditangkap Punya Senjata Api

Bantul, (bantul.sorot.co)--Jat (53) warga Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat kedapatan memiliki senjata api (senpi) ilegal. Lantaran hal ini, polisi gadungan tersebut harus diamankan Satreskrim Polres Bantul. Jat berhasil ditangkap di Jalan Jenderal Sudirman Bantul pada Sabtu (9/2/2019) sekitar pukul 14.30 WIB.

Selain menyita senjata api ilegal, petugas juga menemukan Kartu Tanda Anggota Polri palsu. Di kartu itu tertera Jat berpangkat jenderal bintang dua atau Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol).

Saat diamankan, pelaku mengaku tengah berlibur di Yogyakarta. Di hadapan petugas, polisi gadungan ini buka mulut mengenai senjata ilegal yang ia dapat dari seseorang seharga Rp 60juta.

Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Rudy Prabowo SIK didampingi Kasubbag Humas AKP Sulistiyaningsih dalam keterangan persnya menuturkan, saat ini Jat tengah menjalani pemeriksaan secara intensif di Satreskrim Polres Bantul. Petugas pun masih mendalami apakah Jat pernah berbuat tindak pidana saat mengaku sebagai anggota polisi.

Dari tangan Jat, polisi menyita sejumlah barang bukti yakni satu senjata api jenis Glock 19 Gen 4 berikut dua belas butir peluru dan dua buah magazinenya, satu buah kartu surat izin memegang senpi jenis Glock 19 kaliber 9 MM atas nama tersangka, satu buah kartu surat izin memegang senpi jenis HS kaliber 9 MM atas nama tersangka, satu buah e-KTA Polri atas nama tersangka, satu buah KTA Polri lama atas nama tersangka.

Selain itu polisi juga mengamankan satu buah lencana warna hitam bertuliskan Badan Intelijen Negara Republik Indonesia, satu buah holster warna hitam dan satu buah handphone.

Akibatnya hal ini, JAT dijerat dengan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang tindak pidana memiliki, menguasai, dan menggunakan senjata api tanpa izin dari pihak yang berwenang.

Ancamannya dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun,” ujar AKP Rudy Prabowo, Selasa (12/02/2019).