Pesantren Masyarakat Tak Ingin Ada Perpecahan Bangsa
Peristiwa

Pesantren Masyarakat Tak Ingin Ada Perpecahan Bangsa

Kasihan,(bantul.sorot.co)--Ribuan umat Islam dari Pesantren Masyarakat Indonesia mengikuti kegiatan pengajian akbar dan dzikir sosial di Padukuhan Kersan, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Jumat (02/11/2018) malam. Dalam kesempatan ini umat Islam yang hadir turut mendeklarasikan Pemilu Damai untuk membangun kebersamaan dan toleransi antar sesama anak bangsa.

Menurut Pengasuh  Pesantren Masyarakat Indonesia, Puji Hartono, kegiatan dzikir sosial digelar secara rutin diadakan tiga bulan sekali. Adapun umat Islam yang hadir mulai dari pengasuh hingga masyarakat pesantren di seluruh Indonesia. Dalam kesempatan ini, Pesantren Masyarakat Indonesia mendukung pemerintah untuk melaksanakan pemilu yang damai tanpa hoax dan tanpa ujaran kebencian, sehingga persatuan umat tetap terjaga.

Yang hadir seluruh Indonesia, ada pesantren masyarakat dari DIY, Klaten, Bandung, Jakarta, Cirebon sampai Kalimatan, semuanya hadir. Di sini kita melaksanakan Dzikir Sosial dan Insyaalah Pesantren Masyarakat Indonesia mendukung Pemilu Damai. Dengan demikian bangsa kita tidak tercerai berai, dan negara kita utuh atas doa dan kebersamaan kita bersama,” ujarnya, ditemui usai deklarasi.

Lebih jauh ia berharap, para peserta pemilu baik pilpres maupun pileg untuk berpolitik yang baik dan santun sehingga dapat terpilih dengan baik dan terhormat. Sedangkan kepada masyarakat ia berharap agar dapat menyalurkan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya sehingga perbedaan pilihan dalam politik tidak menjadikan perpecahan di masyarakat. Dengan pelaksanaan pemilu yang damai akan tercipta atau terlahir pemimpin-pemimpin bangsa yang dicintai dan mencintai rakyatnya. 

Pesantren Masyarakat Indonesia mengharapkan pemilu damai berjalan sukses dan konstitusional. Menghasilkan pemimpin dan wakil rakyat yang terbaik,” terangnya.

Sementara itu menyinggung terkait polemik pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid, Puji menghimbau kepada seluruh umat dan semua pihak untuk menahan diri. Saat ini, kasus pembakaran bendera tersebut sudah ditangani oleh aparat kepolisian, sehingga ia mengajak seluruh umat untuk menghormati proses yang berjalan. Ia juga mengingatkan kepada semua pihak untuk berhati-hati dalam bertindak dan melakukan sesuatu, sehingga tidak menyebabkan perpecahan antar sesama umat.

Jangan semua menjadi polisi, jangan jadi hakim dan jangan semua jadi pengambil keputusan (dalam kasus pembakaran bendera bertulisan tauhid), jadi saya harap semua elemen untuk menahan diri. Saya ingatkan juga untuk berhati-hati sebelum bertindak, sehingga tidak memecah belah. Yang paling bahaya lagi dua-duanya ditunganggi dengan motif ekonomi, motif politik, atau apapun. Kami berharap masalah ini cepat selesai,” tandasnya.