Malam 1 Suro, Ribuan Warga Gelar Doa Bersama di Makam Raja Mataram Kotagede
Budaya

Malam 1 Suro, Ribuan Warga Gelar Doa Bersama di Makam Raja Mataram Kotagede

Banguntapan,(bantul.sorot.co)--Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1440 Hijriah atau malam 1 Muharram yang dikenal masyarakat Jawa sebaga Malam 1 Suro, Abdi Dalem Kraton Yogyakarta dan Surakarta di Makam Raja Mataram Kotagede, menggelar tradisi ‘Jenang Suran’, Senin (10/9) malam. Tradisi yang sudah rutin digelar sejak ratusan tahun ini diikuti oleh ribuan masyarakat dari DIY maupun dari luar daerah.

Tradisi ini diawali dengan pembacaan Shalawat Nabi diiringi oleh kesenian hadroh di masjid komplek Makam Raja Mataram Kotagede. Selanjutnya, dipimpin oleh abdi dalem, ribuan masyarakat mengikuti doa dan zikir di pelataran depan regol makam Raja Mataram Pertama, yang berjuluk Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Masyarakat yang datang tampak khusu’ mengikuti ritual doa hingga selesai.

Menurut Abdi Dalem Carik Juru Kunci Makam Raja Raja Mataram Kotagede, Mas Bekel Hastono Sastro Purwanto, dalam tradisi ini abdi dalem juru kunci menyiapkan jenang suran yang diberi nama ‘jenang panggul’ berupa bubur putih untuk dibagikan kepada masyarakat atau peziarah yang datang. Jenang dilengkapi dengan lauk tahu, tempe, sayuran dan dele ireng (kedelai hitam).

Ini merupakan tradisi dari para leluhur di Makam Raja Mataram di Kota Gede ini, kita bersyukur dalam menyambut pergantian tahun dengan doa dengan tahlil. Kemudian ada pembagian jenang suran atau jenang panggul yang berisi jenang lemu dan ada lauk berupa kedelai hitam. Kedelai hitam itu dari bahasa Jawa yakni dele hitam, del itu artinya putus, yang maknanya kita sudah memutuskan tahun 1439 H menuju 1440 H, atau tahun Jawa dari 1952 menuju 1952,” paparnya.

Jenang panggul juga memiliki makna memanggul yang diartikan seluruh abdi dalem dan warga masyarakat yang datang diharapkan bisa kuat memanggul beban hidup di tahun yang baru datang. Sehingga, diharapkan tradisi nenek moyang ini dapat terus dilestarikan dan untuk tahun ini seluruh warga masyarakat mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik. Jenang panggul yang disediakan pada malam tahun baru kali ini berjumlah sekitar 3.000 porsi. 

Tahun ini kita menyediakan 3.000 porsi nanti akan kita bagikan kepada seluruh pengunjung yang datang. Karena pengunjung yang datang tidak hanya dari Jogja, tetapi ada juga yang dari beberapa daerah lain seperti Jepara, Demak, Jakarta dan lainnya,” terang Mas Bekel Hastono Sastro Purwanto.

Sementara itu salah satu pengunjung Asal Wonogiri Joko Pramono mengatakan, dirinya sudah dua kali mengikuti tradisi jenang suran di Makam Raja Mataram Kotagede. Selain untuk ikut berdoa dalam menyambut tahun baru, ia juga ingin ngalap berkah dalam tradisi ini dengan harapan diberikan kemudahan dalam kehidupan.

Pegunjung lain, Ponidi, asal Badran Yogyakarta, mengaku, tradisi peninggalan nenek moyang ini sangat perlu dilestarikan untuk mempererat rasa persaudaraan di tengah masyarakat. Menurutnya, ribuan warga masyarakat yang datang banyak yang tidak saling kenal tetapi dapat disatukan dalam satu kegiatan tanpa memandang latar belakang agama, suku dan golongan.

Pertama ini bentuk rasa syukur kita semua karena dapat menapaki tahun baru ini dengan harapan kita mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kemudian ini sebagai bentuk nguri-uri kabudayan,” katanya.