TPST Piyungan Ganjal Pemkab Bantul Raih Penghargaan Adipura
Pemerintahan

TPST Piyungan Ganjal Pemkab Bantul Raih Penghargaan Adipura

Bantul,(bantul.sorot.co)--Lagi-lagi Kabupaten Bantul gagal untuk meraih penghargaan Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup. Gagalnya Kabupaten Bantul meraih penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan itu karena beberapa faktor.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul, Masharun Ghozali mengatakan, salah faktor yakni masih amburadulnya pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Kurang tertatanya TPST Piyungan membuat Pemkab Bantul selama ini tak mendapatkan piala bergengsi dalam bidang kebersihan. Sampah yang menggunung tak dibarengi dengan pengelolaan yang baik diduga menjadi catatan hitam tim penilai dari Kementerian Lingkungan Hidup.

TPST itu penuh sampah dan memang belum tertata, menampung dari tiga daerah yakni Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul. Ini yang menyebabkan penilaian Bantul rendah dan selalu gagal dapat piala Adipura. Nanti akan kita pikirkan untuk membuat depo-depo pembuangan sampah dan pengelolaan terpadu,” ujarnya, Jumat (05/01).

Sementara itu, Masharun menjelaskan, tiga Kabupaten/kota tersebut menghasilkan sekitar 200 ton sampah setiap harinya. Bantul juga masih mengalami kendala dalam pengangkutan sampah ke TPST karena permasalahan armada. Saat ini, Pemkab Bantul memiliki 16 truk pengangkutan sampah namun hanya 5 armada yang layak beroperasi dengan jumlah petugas 150 orang. 

Ia menilai, jumlah ideal armada sampah yang harus dimiliki Kabupaten Bantul sebanyak 48 truk dengan jumlah petugas sebanyak 300 orang. Dikatakan, di tahun 2018 Dinas Lingkungan Hidup akan mendapat tambahan 20 truk dan tahun 2019 sebanyak 40 truk.

Terpisah, Bupati Bantul Suharsono mengatakan, Piala Adipura diargetkan tahun ini dan 2019. Salah satu komitmennya yakni program Bantul bebas sampah hingga 2019. Ia menyoroti geliat masyarakat yang saat ini sudah mulai tumbuh kesadarannya dalam pengelolaan sampah. Hal ini tampak di tingkat padukuhan, budaya kegotongroyongan untuk membuat lingkungannya sehat dan indah berangsur-angsur meningkat.

Adanya bank-bank sampah dan daur ulang ini sangat bagus. Selain bisa menghasilkan berbagai produk kerajinan, juga mendapat penghasilan,” ujarnya.