Malam 1 Suro, Tempat Keramat di Pantai Selatan Banyak Dikunjungi Warga
Budaya

Malam 1 Suro, Tempat Keramat di Pantai Selatan Banyak Dikunjungi Warga

Kretek,(bantul.sorot.co)--Menyambut tahun baru 1439 Hijriyah 1 Muharram atau malam 1 Suro 1951 tahun Dal, ribuan warga memadati kawasan Pantai Parangkusumo, Parangtritis, Kecamatan Kretek, pada Rabu (20/09).

Kepadatan pengunjung terpantau di TPR (tempat pemungutan retribusi) pantai Parangtritis, sekitar pukul 22.00 WIB, dengan antrian kendaraan yang didominasi sepeda motor dan mobil pribadi. Kepadatan arus kendaraan semakin bertambah hingga menjelang pergantian tahun Islam tersebut.

Kawasan Pantai Parangkusumo menjadi salah satu lokasi yang digunakan warga masyarakat untuk melaksanakan ritual atau perayaan pergantian tahun baru Islam atau tahun pada kalender penanggalan jawa. Di tempat ini terdapat beberapa tempat yang dianggap memiliki keramat sehingga sering digunakan oleh pengunjung untuk menggelar ritual doa.

"Banyak tempat yang dikeramatkan, misalnya makam Syekh Bela Belu, Makam Syekh Maulana Maghribi dan Taman Cepuri Parangkusumo. Dan biasanya tempat tempat itu dijadikan tempat ritual malam 1 Suro,” ujar Abdi Dalem Juru Kunci Taman Cepuri Parangkusumo, Mas Penewu Surakso Jaladri.

Salah satu tempat yang banyak dikunjungi warga untuk melaksanakan ritual tradisi malam 1 suro yakni Cepuri Parangkusumo. Di komplek ini terdapat watu gilang yang dipercaya sebagai tempat bertapanya Danang Sutowijoyo atau pendiri dan Raja Kerajaan Mataram yang kemudian bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. 

Setiap malam tahun baru Islam atau 1 Suro, di tempat tersebut biasanya banyak dikunjungi warga dari berbagai penjuru negeri. Ada yang berniat ziarah dan tak sedikit yang melakukan ritual-ritual dengan tujuan masing-masing. Mas Penewu Surakso Jaladri yang memiliki nama asli Sarjini ini mengungkap, sebagian peziarah yang datang untuk mendapatkan berkah dan agar dilancarkan segala hajat.

Mereka itu tidak nyembah batu atau nisan, ia sebagai simbol berdoa ya hanya kepada Allah SWT,” tandasnya.

Sementara itu, Iwan warga Kota Yogyakarta mengaku, melakukan ritual agar dilancarkan segala sesuatu yang ia kerjakan. Dengan menyiapkan berbagai ubo rampe yang ia pun lantas memulai ritual di dalam Cepuri.

Malam 1 Suro bulan sakral bertepatan dengan tahun baru Islam , ada aura tersendiri. Dan Ini soal kepercayaan saja,” katanya.