Kakek 78 Tahun Penyandang Tuna Netra Hidup dari Keranjang Bambu
Sosial

Kakek 78 Tahun Penyandang Tuna Netra Hidup dari Keranjang Bambu

Dlingo,(bantul.sorot.co)--Keterbatasan fisik tak meghalangi seorang warga Padukuhan Saradan, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, untuk tetap beraktivitas dan berkarya. Sumardi, kakek berusia 78 tahun penyandang disabilitas tuna netra ini masih terampil membuat kerajinan anyaman bambu.

Kegiatan sehari-hari Sumardi tak lepas dari bilah bambu untuk dianyam menjadi keranjang atau keronjot. Meski tak bisa melihat, namun berbekal peralatan sederhana seperti golok dan pisau, mulai membelah dan memotong bambu hingga menjadi potongan dan bilah-bilah bambu berukuran kecil dan tipis kemudian menganyamnnya. Untuk menyelesaikan satu buah keranjang, ia membutuhkan waktu sehari.

Ia mengaku, sudah puluhan tahun menggeluti kerajinan anyaman bambu ini sehingga sudah sangat terampil dan hafal untuk menjalin antara bilah bambu satu dengan bilah bambu yang lain. Di tengah kondisi ekonomi yang kekurangan, ia tidak pernah mengeluh atau menggantungkan hidup dari bantuan orang lain. Sumardi yang sudah lama hidup menduda ini, kini tinggal bersama anaknya yang bekerja sebagai petani penggarap.

Ketimbang duduk-duduk tidak ada kerjaan, saya membuat keronjot ini bisa dapat penghasilan sedikit-sedikit. Untuk hiburan juga,” ujar Sumardi,Minggu (10/9/2017).

Ia mengaku, salam sebulan ia mampu menghasilkan tiga puluh buah keranjang yang masing-masing dijual dengan harga Rp 20 ribu per keranjang. Biasanya, keranjang hasil buatannya diambil oleh pedagang pengepul ataupun dibeli langsung oleh warga setempat. Ia tak kesulitan untuk mendapatkan bambu sebagai bahan baku kerajinannya karena di wilayah padukuhan setempat masih banyak teradat pohon bambu.

Sementara Kepala Dukuh Saradan, Ponirin, mengatakan, semangat hidup dan semangat untuk bekerja dari Mbah Sumardi patut dicontoh oleh banyak orang. Tidak dapat melihat, namun ia tidak pernah putus asa untuk terus berkarya. Menurutnya, banyak warga yang tertarik untuk membeli keranjang buatan Sumardi, bukan karena merasa kasihan tetapi kualitas produk keranjang yang dihasilkan juga cukup baik dan rapi.

Sampai saat ini saya belum pernah mendengar Mbah Sumardi mengeluh tentang kondisi kehidupannya. Meski tak dapat melihat tetapi semengatnya tetap tinggi untuk tetap berkarya,” katanya.