Seniman Bantul Ciptakan Motif Batik Dwi Windu dan Paseban
Budaya

Seniman Bantul Ciptakan Motif Batik Dwi Windu dan Paseban

Bantul,(bantul.sorot.co)--Seorang seniman asal Jonggrangan, Padukuhan Babadan, Desa Bantul, Kecamatan Bantul, Kuswandi, menciptakan dua buah motif batik asli Bantul dengan nama motif Dwi Windu dan Paseban. Dua nama itu sengaja diambil dari dua tempat ikon yang mempunyai nilai sejarah di Kabupaten Bantul.

Motif Dwi Windu menggambarkan Masjid Agung dan Padasan Raksasa yang berada di komplek Dwi Windu. Dalam motif ini juga terdapat dua sayap dengan delapan bulu di setiap sisinya menggambarkan dwi bermakna dua dan windu yang berarti delapan tahun. Sedangkan bingkai motif ini merupakan pakem batik Yogyakarta yakni Satrio Wibowo.

Motif ini mempunyai nilai filosofi bahwa rakyat Bantul memilki jiwa yang agamis dan dibingkai dengan sifat yang satria dan berwibawa. Sedangkan sayapnya menjabarkan generasi muda Bantul siap mengepakkan sayapnya,” jelas Kuswandi yang juga Kasi Kesejahteran Desa Bantul, ditemui di kediamannya, Sabtu (9/9/2017).

Sedangkan untuk motif Paseban, seniman alumni jurusan Seni Kriya Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini membuat motif berupa gambar Kantor Bupati yang berada di komplek Paseban. Motif ini juga dibingkai dengan motif Satrio Wibowo, menggambarkan tokoh yang menduduki tampuk pimpinan di Kabuaten Bantul mempunyai jiwa yang satria dan berwibawa. 

Motif Satrio Wibowo membingkai gambar Kantor Bupati sehingga diharapkan para pemimpin-pemimpin yang duduk di Pemerintah Kabupaten Bantul memiliki sifat satria dan berwibawa karena mempunyai kejujuran dan keluhuran budi,” terang Kuswandi.

Ia berharap, motof batik Dwi Windu dan Paseban ini dapat diproduksi secara massal dan digunakan untuk masyarakat Bantul baik jajaran pegawai negeri sipil (PNS) di pemerintahan maupun masyarakat umum. Saat ini, kata Kuswandi, pembuatan kedua motif batik Bantul tersebut sudah memasuki tahap pembuatan cap batik.

Sedangkan untuk mengembangkan produk kedua batik tersebut, ia sudah melakukan beberpa pelatihan kepada ibu-ibu PKK dan kalangan generasi muda di Desa Bantul. Rencananya, pada tanggal 28 Oktober 2017 yang akan datang, kedua motif batik ini akan resmi diluncurkan di pasar.

Bahkan, untuk menguatkan produk batik khas Bantul ini, ia sudah mendaftarkan hak paten motif batik itu ke Dirjen HaKI (Direktorat Jenderal Hak Kekayakan Intelektual).

Selanjutnya untuk produksinya nanti, saya sudah mengusulkan untuk dikelola oleh BUMDes Bantul dan harapannya produksi batik akan membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Bantul. Saya juga sudah matur ke Bapak Bupati Suharsono dan Pak Wakil Bupati, supaya batik ini dijadikan motif khas Bantul, dan beliau menyambut baik,” pungkasnya.