Tim Pembela Kemanusiaan Nilai Penangkapan Terduga Teroris Tak Sesuai Prosedur
Hukum & Kriminal

Tim Pembela Kemanusiaan Nilai Penangkapan Terduga Teroris Tak Sesuai Prosedur

Kasihan,(bantul.sorot.co)--Tim Pembela Kemanusiaan (TPK) menilai, penangkapan terduga anggota teroris ARD alias Azzam warga Padukuhan Segondo, Desa Karang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, tidak sesuai dengan prosedur.

Tim Pembela Kemanusiaan merupakan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) gabungan dari Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum (PKBH) UMY, LBH Jogja, PAHAM DIY, Forum LSM, PBHI Yogyakarta, Pusham UII, PKBH UAD, PKBH UMS dan LBH IKADIN DIY. Tim Pembela Kemanusiaan telahditunjuk oleh isteri ARD sebagai kuasa hukumnya dan akan mempertanyakan proses penangkapan yang nilai brutal dan sewenang-wenang itu.

ARD langsung ditangkap, semacam disergap atau disekap. Menurut kami, ini standarnya tidak benar. Misalnya kami polisi anda saya tangkap ini surat penangkapannya, yang terjadi tidak seperti itu,” ujar Koordinator TPK, Trisno Raharjo, saat menggelar jumpa pers di Kantor PKBH UMY di Komplek UMY Kasihan, Rabu (23/8/2017) siang.

Menurut Trisno yang juga mantan Direktur PKBH UMY itu, meskipun Densus 88 pada Senin (22/08) menyerahkan surat penangkapan namun proses tersebut tetap menyalahi peraturan perundang-undangan. 

Penangkapan yang dilakukan dijalan sewaktu ARD pulang sehabis shalat Maghrib itu membuat istrinya terkejut sehingga, Narsi istri ARD tidak mau menandatangani surat penangkapan.

Suami tidak pulang, keluarga resah, karena ini tidak diberi tahu tiba-tiba ditangkap. Ini kan tidak jelas. Makanya istrinya tidak mau tanda tangan,” katanya.

Selain itu, lanjut Trisno, uraian dalam surat pemberitahuan penangkapan dirasa janggal. Dalam uraian yang disangkakan terhadap ARD adalah pasal 15 Jo Pasal 7 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Namun demikian, yang tersirat dalam uraian surat pemberitahuan penangkapan tersebut adalah pasal 13 sehingga pihaknya pun menuding jika Densus 88 ceroboh. Ia pun mempertanyakan konsistensi terhadap sangkaan pasal yang dinilai sebagai kejanggalan.

Penetapan tersangka terhadap ARD, dan pengenaan pasal 7 dan 15 tersebut, Densus 88 tidak melaksanakan proses hukum secara tepat dan bermatabat . Penangkapan ARD tidak berbeda dengan proses penculikan,” tandasnya.

Sebagaimana berita yang beredar, ARD alias Azzam warga Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah ditangkap Densus 88 pada Senin (14/08/2017) malam usai menunaikan shalat Maghrib. Ia ditangkap karena diduga terkait jaringan terorisme.